SAYYIDAH FATHIMAH AZZAHRA BINTI RASULULLAAH SAW part 2

Iqdul Lul Fi Shiroti Al Batul
Bagian Keenam
TENTANG MAHAR DAN PERLENGKAPAN RUMAH SYAYYIDAH FATHIMAH
Setelah kita menghayati sekejap dari pernikahan mulia ini, yang diliputi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Ada banyak persoalan yang mendesak yang membutuhkan jawaban yang jelas.
Bagaimana dengan mahar pemimpin para wanita alam semesta ini?
Lalu apa perlengkapan rumah tangga sedangkan ia adalah anak dari seorang nabi yang jujur dan digelari Al Amin?
Pastilah di dalamnya ada Sebuah hikmah untuk umat. Dan pelajaran yang teramat penting. Sehingga dapatlah ia membuka tabir penutup mengenai perkara pernikahan yang dzalim. Pula perkara yang begitu gelap gulita.
Seperti Mahalnya MAHAR, dan bermewah-mewah dalam dekorasi. Atau berlebihan dalam hidangan. Serta hadiah-hadiah yang banyak. Yang hal ini membuat orang fakir terpaksa berhutang. Dan orang kaya mengeluarkan semua harta yang ia miliki.
Maka jadikanlah bagi kita Ahlul Bait Nabi sebagai teladan. Dan berhati-hatilah daripada memaksakan kehendak yang hal itu dapat Mendatangkan Kesulitan.
Mahar Sayyidah Fathimah yang merupakan Anak dari Nabi yang Paling Mulia Shallallahu Alaihi Wasallam adalah 400 dirham. Dan ini adalah mahar yang benar-benar sedikit. Ketika umumnya mahar itu ialah beribu-ribu dirham yang begitu menyulitkan dan membuat repot.
Tahukah kalian bahwa banyaknya mahar tidaklah membuat seorang wanita semakin dibanggakan. Jika wanita dinilai dengan maharnya, tentu Sayyidah Fathimah lebih utama atasnya. Tetapi yang benar ialah wanita yang paling diberkahi ialah wanita yang paling mudah maharnya.
Lalu bagaimana dengan perkakas rumah Sayyidah Fathimah yang mulia?
Bantalnya terbuat dari kulit yang diisi dengan Sabut. Hanya memiliki satu Permadani, dua batu penggilingan untuk membuat roti, satu bejana minum, dua guci hanya itu saja.
Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Di zaman ini?
Dengan perkakas yang mewah. Yang menghabiskan harta tetapi kemudian tidak dipakai (disia-siakan).
Lalu bagaimana perhiasan dan baju pernikahan Sayyidah Fathimah, wahai saudariku tercinta?
Sayyidah Fathimah dibawa ke rumah Sayyidina Ali hanya memakai dua kain pakaian, dan perhiasannya hanya Dua gelang dari perak.
Duhai manusia, apa yang kalian perbuat kini? Dengan baju yang mewah serta cincin-cincin emas dan perhiasan lainnya. Serta banyaknya gelang, yang bahkan hingga menutupi seluruh tangan. Pula pakaian yang bermacam-macam dari emas yang membuat orang berdecak kagum. Padahal itu bukanlah kebanggaan.
Bukankah sudah waktunya bagi kita untuk berubah dari perkara yang menghamburkan dan penuh kesombongan ini?
Bukankah kita perlu berpindah dari yang sulit pada yang mudah?
Sungguh itu lebih utama dan lebih baik bagi kita.
Allah SWT yang Maha Penolong dan kepadanya kami bersandar.
Dan kesejahteraan bagi Sayyidah Fathimah, sungguh dalam pernikahan nya terdapat hikmah bagi mereka yang merenungkannya.
رَضِيَ اللّٰهُ عَنْ فَا طِمَةَ الزَّهْراءِ وَاَرْضَاهَا وَصَلَّی اللّٰهُ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ اَزُكٰی صَلَاةٍ وَاَنْمَا هَا اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَی اٰلِهِ
Assydah Fatimah Azzahro
Beliau menjalankan kehidupan rumah tangganya dengan sempurna, ikhlas di dalam melayani suaminya dan memperhatikan pendidikan anak-anaknya, beliau menggiling gandum, menyapu rumah, memasak, mengambil air sehingga benar benar merasakn kepayahan
Iqdul Lul Fi Shiroti Al Batul
Bagian Ketujuh
TENTANG KELAHIRAN DUA ANAKNYA YANG MULIA, AL HASAN DAN AL HUSEIN
Pasangan suami istri itu pun (Sayyidah Fathimah dan sayyidina Ali bin Abi Thalib) menetap di rumahnya yang baru, yang mana dekat dengan Sayyidina Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sang pemilik akhlak yang mulia. Berlalulah hari demi hari, dalam kegembiraan dan saling melengkapi. Sayyidah Fathimah sang putri Nabi yang mulia, meskipun tidak hidup dalam kemewahan atau kemakmuran, tetapi hatinya selalu dalam keadaan senang dan bahagia. Lalu di tahun ketiga Hijriyah, pasangan mulia ini merasakan kesenangan yang sungguh tak terkira,yaitu lahirnya anak pertama mereka, Al Hasan Bin Ali, sampailah berita gembira ini kepada sang nabi yang terpilih. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bergegas menuju Sayyidina Hasan, dan memeluknya diantara kedua tangannya. Mendoakannya, dan hatinya buncah oleh rasa bahagia. Dan dilihatnya sayyidina Hasan menyerupai Rasul, bukan Ali.
Dan yang pertama kali sampai di telinga sayyidina Hasan ialah suara kakekknya, pemimpin alam semesta. Ketika membacakan adzan di telinganya.
Belum juga sempurna dua tahun, lahirlah lagi saudara kandung sayyidina Hasan yang dinamakan Husein, maka betul-betul bahagia nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan dua pemuda yang barokah ini. Keduanya menjadi penyejuk mata sang Rasul.
Allah yang Maha Mulia pun telah menghendaki, bahwa keturunan Al mustafa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Sayyidah Fathimah dan sayyidina Ali. Yaitu dari dua anak mereka, Hasan dan Husein. Dua kebanggaan sang pemimpin alam.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam senantiasa mengunjungi mereka. Berkumpulah keluarga itu bersama Rasulullah dengan sangat senang.
Betapa beruntungnya perkumpulan mulia ini, betapa nikmatnya majelis agung ini, duduk bersandar di dada Nabi shallallahu alaihi wasallam, Sayyidina Ali di samping kanan, Sayyidah Fathimah di samping kiri, Sedang Hasan dan Husein di pangkuan sang Nabi. Maasya Allah La Quwwata Illa Billah.
Semoga shalawat tercurah pada keluarga ini seluruhnya, setelah terlimpah pada nabi yang mulia
8 اللّٰهُ عَنْ فَا طِمَةَ الزَّهْراءِ وَاَرْضَاهَا وَصَلَّی اللّٰهُ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ اَزُكٰی صَلَاةٍ وَاَنْمَا هَا اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَی اٰلِهِ
Iqdul Lul Fi Shiroti Al Bathul
Bagian Ke Delapan
KEHIDUPAN SEHARI HARI SAYYIDAH FATHIMAH
Sayyidah Fathimah Az-Zahra merupakan contoh agung bagi setiap istri yang mulia dalam kehidupan sehari-hari nya. Benar-benar menampilkan keadaan yang menakjubkan dalam ketaatan, kesabaran, dan kekuatannya menanggung segala derita.
Beliau mengurus perkara rumah tangga dengan sangat rapih.
Tetapi di samping itu, beliau pula memberikan hak-hak suami dengan sebaik-baiknya.
Beliau menggiling roti hingga bengkak tangannya. (Bayangkan ya akhowat, gandumnya itu masih kasar, belum jadi tepung. Sayyidah Fathimah harus mengeluarkan tenaga ekstra membuat tepung lalu dijadikan adonan, menggilingnya dengan alat sangat sederhana, yaitu batu penggiling)
Beliau membersihkan rumahnya, hingga berdebu lah kalungnya. (Zaman dahulu tidak ada lantai yang memakai keramik, semua adalah tanah. Bisa kau bayangkan, debu dan pasir sentiasa ada. Tetapi Sayyidah Fathimah tetap rajin membersihkan rumah dan tak peduli tubuh badannya kotor.
Beliau mengambil air hingga sesak dadanya. (tiada pompa dan keran kala itu. Air harus diambil dari sumur. Bisa kau bayangkan, mandirinya Sayyidah Fathimah dan tidak manja. Kala suaminya keluar rumah, beliau sendiri yang mengambil air yang pernah punya sumur pasti tahu betapa sulitnya dan beratnya mengambil air dari sumur itu).
Beliau membuat perapian di bawah periuk, dan tak terhitung sudah berapa kali merasakan panasnya. Tiada pula kompor gas atau kompor minyak. Apalagi air fryer, microwave atau pemanas air.
Sayyidah Fathimah harus membuat api dari kayu untuk memasak. Tahukah kamu, itu perlu waktu yang lama, dan butuh pula kesabaran serta kekuatan. Menunggu api menyala, memperhatikan agar api tidak terlalu besar, lalu menunggu hingga masakan jadi. Betapa rumitnya.
Lalu bagaimana dengan wanita saat ini?
Yang hidupnya dikuasai kemalasan dan banyak tidur
Tidakkah mereka melihat pada pemimpin wanita alam semesta, bagaimana ia mengurus perkara rumah tangga sendiri dengan Azam tanpa keluhan.
Katakanlah pujian atas keutamaan nya yang begitu jelas:
ini bukanlah seorang manusia, melainkan bidadari surga. Ketika sampailah kesulitan itu pada puncaknya bagi pasangan mulia, Sayyidah Fathimah dan sayyidina Ali, mereka pun meminta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam seorang pembantu agar meringankan beban hidup mereka. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam malah bersabda ,
"Tidak, Demi Allah! Aku tidak akan memberikannya kepada kalian berdua, sedangkan para Ahlu suffah (orang fakir yang tinggal di masjid Nabawi) kelaparan dan tidak kutemukan sesuatu pun untuk ku infakkan pada mereka."
Lalu datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada mereka, sedangkan Sayyidah Fathimah dan sayyidina Ali sudah bersiap untuk tidur. Mereka menutupi diri mereka dengan selimut, yang jika menutupi kepala mereka, tampaklah kaki mereka (sangking kecilnya itu selimut).
Mereka pun bersiap untuk bangun, menyambut sebaik-baik manusia shallallahu alaihi wasalam.
Tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Tetaplah pada posisi kalian." Lalu duduklah Rasul diantara mereka berdua lalu bersabda lagi,
" Maukah kalian berdua ku tunjukkan hal yang lebih baik dari apa yang kalian berdua minta?"
Mereka menjawab, "Mau, ya Rasulullah."
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab
"Ada beberapa kalimat yang diajarkan malaikat Jibril padaku. Yaitu setiap selepas shalat, bertasbihlah 10x, lalu bertahmid 10x, dan bertakbir 10x. Dan jika kalian telah bersiap untuk tidur maka bertasbihlah 33x, lalu bertahmid 33x, dan bertakbir 34x. Maka hal itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu."
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun meninggalkan mereka, sedangkan hati mereka telah dipenuhi ketenangan dan keridhaan.
رَضِيَ اللّٰهُ عَنْ فَا طِمَةَ الزَّهْراءِ وَاَرْضَاهَا وَصَلَّی اللّٰهُ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ اَزُكٰی صَلَاةٍ وَاَنْمَا هَا اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَی اٰلِه
Iqdul Lul Fii Siroti Al-batull
Bagian Ke Sembilan
PENGHORMATAN NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALAM PADA ANAKNYA, SAYYIDAH FATHIMAH AZ-ZAHRA
Kita masih dalam lembaran sejarah yang sangat terang. Dari wanita mulia yang sangat tawadhu. Sungguh Sayyidah Fathimah telah diutamakan dengan kemuliaan, dari ayahnya yang sangat mulia shallallahu alaihi wasallam.
Jika Sayyidah Fathimah datang menemui Rasulullah, maka Rasul berdiri untuk menyambutnya penuh kemuliaan,lalu mencium anaknya itu karena cinta dan penghormatan.
Dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya Rasul sendiri sangking bahagianya atas kedatangan sang putri.
Begitu pula yang dilakukan Sayyidah Fathimah jika Rasulullah datang menemui nya, ia lakukan dengan penuh cinta dan juga memenuhi hak yang harus ia tunaikan sebagai anak.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan gelar pada Sayyidah Fathimah dengan, Ummu Abiha (ibu dari ayahnya) karena pujian yang tinggi atas lemah lembutnya Sayyidah Fathimah.
Jika Rasul akan berpergian, maka rumah terakhir yang disinggahi ialah rumah Sayyidah Fathimah. Mengucapkan salam perpisahan, lalu menitipkan putrinya pada Allah.
Dan ketika kembali dari berpergian, awal sekali yang disinggahi ialah masjid lalu rumah Sayyidah Fathimah.
Sayyidah Fathimah pun menyambut Rasul dengan penuh kebahagiaan dan ceria.
Dan daripada bukti keutamaan dan kemuliaan Sayyidah Fathimah ialah dijadikan rumah Sayyidah Fathimah dan rumah Rasul saling berdekatan. Yang mana diantara dua rumah ini ada jendela, sehingga keduanya dapat dengan mudah saling mengunjungi ketika ada hajat.
Dan diantara kedua rumah itu ada pintu, yang mempertemukan kekasih, kapanpun itu, baik siang ataupun malam. Tanpa perlu payah dan menunggu lama. Rasulullah sangat sayang pada putrinya ini, dan sungguh lembut.
Dan ada satu kisah yang sungguh indah. Dari kitab-kitab siroh, yang menggambarkan kasih sayang seorang ayah dan kelembutan yang terpuji.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar dari rumahnya ketika tengah hari yang sangat panas. Beliau tidak dapat tidur karena terlalu lapar. Namun ini adalah lapar yang beliau pilih, bukan lapar dalam kondisi darurat.
Lalu beliau shalallahu alaihi wasallam menuju rumah Abu Ayyub Al Anshari. Shahabat Abu Ayyub Al Anshari sangat senang dengan kedatangan Nabi dan yang bersamanya. Lalu segeralah dihidangkan untuk Nabi kurma yang segar. Kemudian abu Ayyub Al Anshari pergi memasak.
Datanglah Abu Ayyub Al Anshari dengan makanan yang banyak, juga daging yang dibakar dan dimasak.
Ketika dihidangkan makanan yang banyak itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengambil beberapa potong daging dan menyimpannya di dalam roti. Kemudian beliau meminta tuan rumah untuk memberikan itu pada Sayyidah Fathimah dengan segera, sambil bersabda:
"Bersegeralah membawa daging ini pada Fathimah, karena dia belum makan seperti ini beberapa hari."
Begitulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhususkan buah hatinya, dengan kasih sayang yang sangat berlebih.
Dan begitu pula yang dilakukan Sayyidah Fathimah pada ayahnya, karena beliau adalah orang yang paling mirip dengan ayahnya shallallahu 'alaihi wasallam.
Sama saja,
sebelum atau sesudah menikah, Sayyidah Fathimah mendahulukan ayahnya dalam hal apapun.
Seperti di suatu masa Sayyidah Fathimah membawakan sepotong roti dari gandum. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, "Apa ini wahai Fathimah?"
Sayyidah Fathimah menjawab, "itu adalah roti yang aku buat. Dan aku belum merasa tenang hingga aku memberikannya padamu."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Ini adalah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari."
Begitulah Sayyidah Fathimah, tidaklah ia merasa tenang hatinya atau makan roti itu dahulu sebelum diberikan terlebih dahulu pada ayahnya shallallahu alaihi wasallam.
`۞ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْ فَا طِمَةَ الزَّهْراءِ وَاَرْضَاهَا وَصَلَّی اللّٰهُ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ اَزُكٰی صَلَاةٍ وَاَنْمَا هَا اللّٰهُمّ
IQDUL LUL FI SHIROTI ALBATUL
Bagian Kesepuluh
TENTANG SEBAGIAN DARI AKHLAK SAYYIDAH FATIMAH AZ-ZAHRA RADHIALLAHU ANHA
Daripada sebagian akhlak Sayyidah Fatimah yang suci, serta perangainya yang diridhoi ialah...
sesungguhnya kedermawanan dan mendahulukan orang lain ada di dalam diri Sayyidah Fathimah secara alami, begitu pula di dalam diri suaminya, Sayyidina Ali yang memiliki kemuliaan. Oleh karena itu mereka berdua saling mengenal dan sesuai satu sama lain. Dan bagian mereka daripada kenikmatan sungguh sangatlah berlimpah.
اِنَّ الْاَبْرَارَ يَشْرَبُوْنَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُوْرًا ۚ ﴿الإنسان : ۵﴾
"Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur" (QS. Al-Insan: 5)
Daripada yang dikisahkan untuk kedermawanan dan sikap mendahului orang lain dalam kehidupan Sayyidah Fatimah dan juga Sayyidina Ali, yang mana ini merupakan teladan terbaik. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah di dalam Alquran tentang Nazar mereka yang ditunaikan. Yaitu mereka memberi makan atas dasar cinta mereka untuk mendapatkan pahala. Mereka mendahulukan orang miskin, anak yatim, dan tawanan.
Allah memuji mereka dalam Al Qur'an yang artinya:
"Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, yatim, dan tawanan." (Al insan ayat 8)
Mereka bersedekah dengan makanan mereka ketika mereka berbuka dan sahur sehingga mereka menyambung puasa (tidak makan kecuali air putih) mereka untuk memenuhi Nazar yang telah mereka ucapkan.
Lalu mereka berkata dengan ikhlas dan dengan jujur tidak ada kebohongan dan tidak ada kepalsuan:
"Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (Al insan ayat 9)
Mereka bersungguh-sungguh dalam beramal sholeh dan mereka sangat mengambil perhatian dalam ketaatan di tiap kesempatan.
Mereka mengadakan jual beli bersama Allah dan jual-beli mereka sungguh sangat beruntung.
Dan perkataan mereka sebagai nasihat ialah:
"Sesungguhnya Kami takut akan(azab ) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.”(Al insan ayat 10)
mereka sangat memperbagus akhlak dan amal mereka sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat nikmat Nya dan juga mencari tambahan atas keutamaan dan nikmat yang diberikan oleh Allah.
Dan penuh hati mereka daripada takut kepada Allah dan harap kepada Allah.
Mereka berdo'a sepenuh hati kepada Allah agar memberikan keamanan di hari penuh ketakutan (kiamat) dan juga untuk melipatgandakan pahala mereka.
"Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan di hari itu. Dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kebersihan hati." ( Al insan ayat 11)
Mereka takut kepada Allah di dunia maka Allah memberikan mereka rasa aman di akhirat. dan menjadikan mereka daripada orang-orang yang bercahaya wajahnya, yang mana kelak akan melihat kepada Allah. Dan Allah telah menyiapkan bagi mereka kenikmatan yang tidak bisa di dilihat oleh mata dan tidak bisa didengar oleh telinga dan tidak pernah sekalipun terlintas di dalam hati manusia. Dan ada seruan kepada mereka:
" Sesungguhnya ini adalah balasan bagimu. Dan jerih payahmu akan diberi balasan." (Al insan ayat 22)
*رَضِيَ اللّٰهُ عَنْ فَا طِمَةَ الزَّهْراءِ وَاَرْضَاهَا وَصَلَّی اللّٰهُ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ اَزُكٰی صَلَاةٍ وَاَنْمَا هَا اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَی اٰلِهِ*
TAMBAHAN UNTUK MEMPERJELAS CERITA...
Mengenai surat Al insan yang diturunkan kepada keluarga Sayyidah Fathimah dan Sayyidina Ali, inilah cerita lengkapnya:
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman ) yang campurannya adalah air kafur yaitu mata air (dalam surga ) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan(azab ) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (Surah Al-Insan:5-10)
Dikisahkan dari Ensiklopedia Alquran, bahwa saat masih kecil, Al-Hasan dan Al-Husain, kedua putra Imam Ali bin Abi Thalib jatuh sakit. Tatkala penyakit keduanya semakin parah, Imam Ali dan Sayyidah Fathimah bernazar; apabila kedua putranya sembuh, mereka akan berpuasa selama tiga hari.
Meskipun memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, pasangan suami istri ini, hidup serba kekurangan.
Suatu hari, Imam Ali mendatangi rumah seorang Yahudi untuk meminjam tiga sha’ gandum. Orang Yahudi itu berkata, “Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan dengan syarat kamu memintal wol ini.”
Imam Ali yang kebetulan pandai memintal wol, menerima syarat itu. Lalu beliau membawa gandum tersebut dan memberikannya kepada Sayyidah Fathimah. Kemudian Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyanyang memberikan kesembuhan kepada kedua putranya. Imam Ali dan Sayyidah Fathimah pun akhirnya menepati nazarnya berpuasa selama tiga hari.
Pada hari pertama, Sayyidah Fathimah menggiling satu sha’ gandum untuk membuat roti. Sembari menunggu saat berbuka, mereka meletakkan beberapa potong roti beserta garam dan cuka di hadapannya.
Saat terdengar suara Bilal bin Rabah mengumandangkan azan shalat Maghrib, tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk seseorang. Imam Ali membukanya dan menjumpai seorang lelaki renta miskin meminta sedekah.
Lelaki itu berkata, “Aku dan istriku sangat kelaparan dan kesakitan”. Mendengar perkataan lelaki renta miskin itu, Sayyidah Fathimah merasa iba sehingga tanpa terasa kedua matanya meneteskan air mata. Suami istri itu segera memberikan roti mereka kepada lelaki renta tersebut. Ia berterima kasih dan mendoakan mereka berdua.
Mereka melakukan semua itu bukan untuk mengharap ucapan terima kasih, namun semata-mata mencari keridhaan Allah SWT. Maka, pada hari itu mereka berbuka hanya dengan air putih.
Setelah berbuka, mereka menunaikan shalat Maghrib dan bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya.
Pada hari berikutnya, mereka menggiling satu sha’ gandum dan mengolahnya menjadi roti. Menjelang Maghrib, seorang anak yatim datang ke rumah mereka meminta makanan untuknya dan saudara-saudaranya yang masih kecil. Imam Ali dan Sayyidah Fathimah pun memberikan makanan yang ada. Pada hari kedua ini, mereka kembali berbuka hanya dengan air putih.
Untuk melengkapi nazarnya, mereka berpuasa pada hari ketiga. Tiba-tiba seorang tawanan mengetuk pintu rumahnya meminta sedekah. Mereka pun melakukan hal yang sama dengan dua hari sebelumnya. Tentu saja, mereka menjadi lemah karena sangat lapar.
Pada hari keempat, mereka berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Melihat kondisi mereka (Ali, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain) sangat lemah, Nabi SAW menangis. Saat itulah Malaikat Jibril menurunkan surah Al-Insan.
Meskipun diturunkan berkenaan dengan Imam Ali dan Sayyidah Fathimah, ayat-ayat tersebut ditujukan kepada semua kaum beriman supaya meneladani mereka. Semoga kita dapat meneladani mereka semua.
IQDUL LUL FII SHIROTI ALBATUL
Bagian Kesebelas
Wafatnya Rasulullah ﷺ dan Sayyidah Fathimah
Ketika Allah telah menyempurnakan agama Islam melalui RasulNya ﷺ, dan telah benar-benar sempurna nikmat bagi para mukmin, pula Allah berikan kaum mukmin kemenangan yang nyata.
Turunlah firman Allah yang artinya:
"Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu. Dan Aku cukupkan atasmu nikmatKu. Dan aku ridha Islam sebagai agamamu ." (Al Maidah ayat 3)
Di dalam ayat ini ada sebuah isyarat yang tersirat, atas dekatnya ajal Nabi sang pelaksana amanah.
Ayat ini diturunkan ketika haji Wada' (haji perpisahan, yang terakhir sebelum Rasul ﷺ wafat).Dan Rasulullah ﷺ telah bersabda di haji tahun itu:
"Ambillah dariku cara-cara ibadah kalian, sepertinya aku tidak akan berjumpa dengan kalian selepas tahun ini!"
Maka tidaklah berlalu kecuali masa yang sebentar setelah kembali dari Makkah, Rasul ﷺ terserang demam. Kaum muslim mengira itu hanyalah demam biasa yang akan segera pulih. Kecuali Sayyidah Fathimah, beliau merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang sangat saat melihat ayahnya demam. Hingga ia merasakan hatinya telah terbelah dan hancur.
Lalu Sayyidah Fathimah segera mendatangi Rasulullah ﷺ dengan tergesa. Dengan perasaan khawatir dan takut yang sangat. Ketika Rasulullah ﷺ melihat Sayyidah Fathimah datang, maka beliau sangat gembira karena pertemuan ini sambil berkata, "Selamat datang duhai anakku!"
Rasulullah ﷺ mendudukkan Sayyidah Fathimah di sisi kanannya. Lalu Rasulullah ﷺ membisikkan sesuatu padanya sehingga Sayyidah Fathimah menangis.
Lalu membisikkan untuk kali kedua hingga Sayyidah Fathimah tertawa.
Bisikan pertama ialah berita tentang dekatnya ajal sang Rasul ﷺ, maka Sayyidah Fathimah menangis karena takutnya akan perpisahan.
Bisikan kedua ialah bahwa Sayyidah Fathimah adalah ahlul bait (keluarga Rasul ﷺ) pertama yang menyusul kematian sang Rasul ﷺ, maka Sayyidah Fathimah tertawa karena senang akan kembali bertemu Nabi.
Lalu berpindahlah Ruh Rasulullah ﷺ kepada Allah yang Maha Tinggi. Sayyidah Fathimah sangat bersedih dengan kesedihan yang tiada bandingannya.
Beliau berdiri di depan kubur yang mulia itu.
Sayyidah Fathimah berkata setelah mengalami duka yang dalam, lalu mengambil segenggam tanah dari kubur Rasul ﷺ, diciumnya tanah itu dan dinikmati aroma wanginya:
"Apa yang akan didapat oleh orang yang mencium tanah kubur Muhammad (ﷺ), Adalah bahwa ia tidak akan mencium sepanjang masanya sesuatu yang lebih berharga daripada tanah tersebut. Aku telah ditimpa sebuah musibah, yang bila musibah itu tertimpa pada siang hari, maka siang yang terangkat akan berubah menjadi malam yang gelap gulita ."
Kemudian Sayyidah Fathimah kembali ke rumahnya dengan kesedihan yang sangat. Dan setelah itu, tak pernah tampak senyum di wajahnya hingga ajal menjemputnya. Setelah enam bulan kematian ayahnya.
Lalu Sayyidina Ali berdiri di depan kubur istrinya, mengingat dan mengenang kebaikan sang istri. Berkatalah Sayyidina Ali dengan penuh kesedihan dan khusyuk, sedang kedua matanya telah penuh air mata :
"Setiap pertemuan dua kekasih pasti ada perpisahan,
Dan yang tak terpisah itu sedikit adanya,
Sesungguhnya perpisahan dengan Fathimah setelah Muhammad ﷺ dariku,
Adalah bukti bahwa kekasih tidaklah abadi."
Dan berkata pula Sayyidina Ali dengan penuh air mata, dan kesedihan yang sangat:
"Kepada Allah lah aku mengadu bukan pada manusia,
Sesungguhnya kulihat bumi masih ada sedangkan para kekasih tiada,
Kekasihku, jika bukan karena kematian yang menimpamu,
Sungguh telah kucela, namun kematian bukanlah sesuatu yang patut disesali."
Sayyidah Fathimah wafat di hari Senin tanggal 2 Ramadhan tahun 11 Hijriyah.
Dan umurnya ketika wafat ialah 28 tahun Qomariyah, ada juga yang berkata 30 tahun. Segala hukum hanyalah milik Allah yang Maha Mulia dan Maha tinggi. Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.
رَضِيَ اللّٰهُ عَنْ فَا طِمَةَ الزَّهْراءِ وَاَرْضَاهَا وَصَلَّی اللّٰهُ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ اَزُكٰی صَلَاةٍ وَاَنْمَا هَا اللّٰهُمّ
Iqdul Lul Fii Siroti Al-Batul
Bagian Kedua Belas
KEISTIMEWAAN SAYYIDAH FATHIM
Allah benar-benar telah mengistimewakan wanita yang bertakwa ini.
Seorang wanita yang ridha atas ketentuan Allah, dan Allah pun ridha padanya.
Dengan keistimewaan yang sangat banyak. Pula keutamaan yang tinggi. Kami akan mendatangkan beberapa keistimewaan itu, yang sebenarnya tiada batasnya.
Semua ini menunjukkan bahwa beliau adalah pemimpin wanita alam semesta tanpa ada sedikitpun rasa sombong.
Daripada keistimewaan Sayyidah Fathimah, ialah bahwa beliau adalah bagian dari Rasulullah ﷺ.Hal ini saja sebenarnya sudah cukup sebagai sebuah kebanggaan dan kemuliaan. Apapun yang membuat Sayyidah Fathimah marah, maka itu pula akan membuat marah Rasulullah ﷺ. Dan apa yang menyenangkan hati Sayyidah Fathimah, maka Rasulullah ﷺ pun senang dan ridha.
Keistimewaan lainnya ialah, bahwa Sayyidah Fathimah dikabarkan dalam hadits:
Beliaulah pemimpin wanita ahli surga. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda pada Sayyidah Fathimah,
"Tidakkah kamu ridha untuk menjadi pemimpin wanita mukmin?"
Keistimewaan lainnya, Sayyidah Fathimah ialah keluarga yang paling dicintai oleh Nabi ﷺ dan juga yang memiliki kedudukan tertinggi di sisi Rasulullah ﷺ.
Jika datang Sayyidah Fathimah, maka Rasulullah ﷺ menyambutnya dengan senang, menemuinya dengan senyum lebar serta dada yang lapang. Lalu mendudukkannya di tempat duduk sang Rasul sendiri.
Keistimewaan lainnya, bahwa Sayyidah Fathimah dikhususkan daripada wanita lainnya.
Dengan tidak pernah mengalami haidh ataupun nifas. Maka beliau tidak pernah meninggalkan satu shalatpun, sejak diwajibkan atasnya shalat.
Yang mana Allah mengkhususkan mereka dengan kemuliaan yang luas. Dan berfirman dalam kitab yang abadi (Al Qur'an) sebagai sebuah pujian yang memuliakan mereka (yang artinya), "Sesungguhnya Allah hendak bermaksud menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait, dan mensucikanmu sebersih-bersihnya." (Al Ahzab ayat 33)
Keistimewaan lainnya, bahwa siapapun yang mengambil sebab atau nasab dengan Sayyidah Fathimah, maka ia telah terhubung dengan pemimpin orang ajam dan Arab (Rasulullah ﷺ). Bersabda Rasulullah ﷺ,
"Semua sebab dan nasab terputus di hari kiamat. Kecuali sebabku dan nasabku."
Keistimewaan lainnya, bahwa Allah telah mengharamkan api neraka bagi keturunan Sayyidah Fathimah. Sungguh telah datang hadits dari Rasulullah ﷺ bahwa Sayyidah Fathimah telah menjaga kehormatannya, maka Allah mengharamkan api neraka bagi keturunannya.
Keistimewaan lainnya yang tiada bandingannya ialah, bahwa Sayyidah Fathimah adalah yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ. Baik ketika diam atau memberi petunjuk. Ketika berbicara ataupun berjalan.
Keistimewaan lainnya, bahwa Sayyidah Fathimah tidak pernah merasakan kelaparan sebab berkat doa Rasulullah ﷺ. Diceritakan suatu hari Sayyidah Fathimah merasakan kelaparan yang sangat, melihat itu Rasulullah ﷺ bersabda,
"Ya Allah, yang mengenyangkan yang kelaparan, yang Maha menunaikan hajat, yang Maha mengangkat yang rendah. Janganlah kau buat Fathimah binti Muhammad lapar."
Berkata Sayyidah Fathimah, "Setelah itu aku tidak pernah merasakan lapar lagi."
Keistimewaan lainnya, dijadikan suaminya itu memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,_
"Suamimu adalah pemimpin di dunia, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang shalih."
Keistimewaan lainnya ialah ditampakkan keutamaan Sayyidah Fathimah kelak di akhirat. Ketika Sayyidah Fathimah akan lewat, ada penyeru yang berkata, "Tundukkan lah pandangan kalian" Hingga Sayyidah Fathimah melewati mereka.
*رَضِيَ اللّٰهُ عَنْ فَا طِمَةَ الزَّهْراءِ وَاَرْضَاهَا وَصَلَّی اللّٰهُ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ اَزُكٰی صَلَاةٍ وَاَنْمَا هَا اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَی اٰلِهِ*
❤️Shighat sholawat untuk Sayyidah Fathimah Az-Zahra radiyallahu'anha🌹
يَا حُبَابَتِيْ يَا سَيِّدَتِيْ يَافَاطِمَة يَا بِنْتَ رَسُوْلِ الله
صَلاَةُ اللهِ وَسَلاَمُهُ اْلأَتَمَّان اْلأَكْملَان
عَلَى أَبِيْكِ وَ أُمِّكِ وَعَلَيْكِ وَعَلَى زَوْجِكِ وَعَلَى ابْنَيْكِ وَعَلَى مَنْ وَلَاكُمْ لِله
Yaa Hubaabaty
Yaa Sayyidaty
Yaa Fathimah
Yaa binta Rasuulillah
Sholaatulloohi wa salaamuhu
Al atammaan al akmalaan
'Alaa abiiki wa ummiki
wa 'alaiki wa 'alaa zaujiki wa 'alabnaiki wa 'alaa man waalaakum lillaah.
Artinya :
Wahai kekasihku...
Wahai junjunganku...
Wahai Fatimah...
Wahai putri Rasulullah...
Semoga tercurah shalawat dan salam Allah yang sempurna..
Atas ayahanda dan ibundamu, juga atas engkau, suamimu, kedua putramu, serta orang-orang yang mengikutimu karena Allah.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🖋Majelis Musytaq Alghana
Komentar
Posting Komentar