Tips Menjaga Lisan Dan Hati

BISMILLAAH...

 

🌼Menjaga Lisan Dan Hati🌼

Fakta memperlihatkan betapa lisan manusia mampu menimbulkan kekacauan sosial serta konflik yang berkepanjangan.

Pertikaian seringkali bermula dari lidah yang tidak dijaga dengan baik. Alquran menasihati kita, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.”

Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.'

(QS Al Hujurat [49]: 12)

Dalam ayat yang lain Allah menyatakan bahwa prasangka sama sekali tidak berfaedah terhadap kebenaran.

(QS An Najm [53]: 28)

Seringkali, kita menyangka yang bukan-bukan terhadap seseorang, padahal kita sama sekali tidak memiliki data yang pasti tentang itu. Kita juga sama sekali tidak mengetahui isi hati setiap orang.

Bila sudah mulai menyangka yang tidak baik, maka kita pun akan cenderung dijalani pula, yaitu mencari-cari kesalahan (tajassus).

Jika kita tidak suka terhadap orang lain, maka berbagai jalan akan ditempuh untuk mencari-cari hal yang salah dari diri orang tersebut. Kalau kesalahan sudah dicari-cari, maka manusia yang paling mulia pun akan tampak penuh noda di depan mata.

Prasangka dan tajassus biasanya akan dekat dengan bergunjing.

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah Radiyah anhu dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam suatu kali ditanya tentang pengertian ghibah.

Yaitu kamu menyebut-nyebut saudara kamu tentang sesuatu yang tidak disukainya, terang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

Lantas bagaimana sekiranya saudara saya seperti apa yang saya sebutkan?

tanya orang itu lagi.

Kalau dia seperti yang kamu ucapkan, berarti kamu telah melakukan ghibah, tapi sekiranya ia tidak seperti yang engkau katakan, maka kamu telah membuat tuduhan palsu terhadapnya.

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Manusia-manusia yang baik pun bisa memiliki kekurangan.

Tapi, bukan berarti hal itu layak untuk diinvestigasi dengan prasangka dan tajassus serta dipublikasi dengan ghibah.

Bukankah seorang hamba seharusnya merasa malu dengan teguran Tuhannya yang mengumpamakan semua itu dengan memakan daging bangkai saudaranya yang sudah mati?

Tidakkah kita merasa jijik karenanya?

Jika manusia berada di waktu pagi, maka semua anggota badannya menyalahkan lisan.

Mereka berkata,

Wahai lisan, bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami karena sesungguhnya kami tergantung pada dirimu, Jika kamu bersikap lurus, maka kami pun akan lurus. Namun jika engkau menyimpang, maka kamipun akan menyimpang.

(H.R Tirmidzi, shahih)

👑Hati adalah Raja👑

Segala hal yang dilakukan oleh tubuh dan fisik kita, semua tergantung dan dikendalikan oleh hatinya! Jika hatinya baik, maka amal perbuatannya akan baik. Demikian sebaliknya, jika hatinya jelek, maka amal perbuatannya akan jelek pula.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).

(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Tidak ada sarana untuk membersihkan hati yang lebih baik selain Al-Qur’an. Tentunya dengan cara membacanya, memahami isi kandungannya, serta mengamalkannya.

Kita bisa saja membaca Al-Qur’an beserta isi dan kandungannya dari literatur tafsir yang tersedia saat ini. Akan tetapi upaya yang lebih baik untuk mempelajari dan memahami Al-Qur’an adalah dengan menghadiri majelis ilmu, dimana di dalamnya dibahas tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Selain lebih efektif, majelis ilmu pun memiliki keutamaan lain, seperti limpahan keberkahan dari Allah subhanahu wa Ta’ala, dido’akan oleh para malaikat, dan seperti meniti jalan ke syurga.

Hati merupakan cerminan dari setiap orang yang memilikinya dalam arti apabila mempunyai hati yang baik, maka cerminannya juga terlihat baik begitu pun sebaliknya jika mempunyai hati yang buruk, maka buruk juga yang terlihat. Pada saat zaman Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, penyakit hati bisa dihindari dengan cara ajaran yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua orang rasanya tidak bisa lepas dari penyakit hati dan menjadi hal wajar bagi kehidupan manusia. Ditambah lagi, setiap mausia terlahir dengan sifat kekhilafan saat bersosialisasi.

Tips Menjaga Hati Dalam Islam

Apabila penyaki hati tidak segera dihilangkan dengan baik, maka dampak buruk akan dihasilkan pada diri sendiri dan berikut ini akan saya berikan beberapa tips untuk menjaga hati di dalam ajaran agama Islam.

🌼Tidak Terlalu Banyak Bicara

Bicara terlalu berlebihan akan mengeraskan hati sehingga akan lebih baik untuk bicara seperlunya dan hindari juga seseorang yang terlalu banyak bicara, pembual, tukang bohong, ghibah dan sebagainya. Namun, apabila bicara yang dilakukan adalah tentang kebaikan maka boleh untuk dilakukan seperti contohnya memberikan pelayanan, mengajar atau kegiatan positif lainnya.

🌼Jaga Nafsu dan Emosi

Emosi akan membuat seseorang menjadi tidak tenang sehingga harus sangat dihindari supaya tidak menjurus pada dosa dan juga beberapa penyakit hati. Beberapa jenis nafsu yang harus dihilangkan diantaranya adalah nafsu mewujudkan impian, nafsu harta, nafsu seks, nafsu makan, nafsu marah dan sebagainya. Salah satu cara paling tepat untuk menjaga nafsu dan juga emosi adalah dengan berpuasa baik itu puasa sunnah atau puasa wajib Ramadhan.

🌼Ingat Pada Allah Subhanahu wa ta'ala

Selalu ingat pada Allah Subhanahu wa ta'ala bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti sholat lebih rajin seperti sholat lima waktu, sholat tahajud, sholat dhuha, sholat malam dan juga sholat lainnya. Selain itu perbanyak juga dzikir dan doa, mengaji dan membaca Al Quran yang bisa sangat berguna untuk selalu menjaga hati.

Dengan selalu megingat Allah Subhanahu wa ta'ala, maka secara otomatis kita akan lebih takut akan Allah Subhanahu wa ta'ala apabila kita berbuat dosa yang disebabkan penyakit hati atau perbuatan maksiat.

🌼Berteman Dengan Orang Saleh

Saat bersosialisasi juga perlu dilakukan dengan baik, yakni berteman dengan orang yang saleh. Apabila terlalu banyak berteman dengan orang yang tidak menjaga hati, maka hanya akan menimbulkan penyakit dan semakin menjauhkan kita pada Allah Subhanahu wa ta'ala. Salah dalam pergaulan juga akan menambah dosa karena perbuatan maksiat yang sudah dilakukan baik secara sengaja atau tidak sengaja.

🌼Muhasabah Diri

Akan lebih baik jika sebelum mulai menyalahkan orang lain, terlebih dulu kita berkaca dan introspeksi pada diri sendiri. Dengan memeriksa diri sendiri, kita mungkin bisa menemukan kenapa seseorang bersikap seperti demikian dan mungkin saja kita sudah pernah berbuat kesalahan pada orang tersebut.

🌼Jauhkan Diri Dari Sikap Iri dan Dengki

Iri dan juga dengki menjadi ruang untuk syaitan agar bisa masuk ke dalam hati manusia. Angan yang terlalu berlebih akan membuat seseorang menjadi buta dan tuli. Jika angan tersebut tidak dilandasi dengan agama, maka seseorang akan melakukan berbagi cara untuk mewujudkan angan tersebut. Sifat ini bisa timbul dari kecintaan seseorang akan kehormatan, material dan juga pujian dan manusia tidak akan hidup dengan tenang apabila mempunyai sikap yang seperti ini.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang. Yaitu orang yang diberi harta oleh Allah, kemudian membelanjakannya di jalan yang benar. Dan orang yang diberi hikmah oleh Allah, kemudian memutuskan persoalan dengannya dan mengajarkannya.

(HR. Bukhari)

🌼Jauhkan Dari Sifat Keras Hati dan Amarah

Marah yang terjadi dari hati manusia terkadang membuat seseorang bisa melakukan tindakan tanpa membuat pertimbangan akal. Apabila akal sudah melemah, maka yang tersisa hanyalah hawa nafsu dan syaitan akan dengan bebas melancarkan aksinya kemudian mempermainkan manusia.

🌼Perbanyak Sifat Memaafkan

Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.

(Surah Al-A’raf : 199)

Allah Subhanahu wa ta'ala adalah Maha Pemaaf pada hamba-Nya dan tidak perduli seberapa dalam dosa tersebut, apabila hamba-Nya melakukan taubat dengan sungguh sungguh, maka Allah Subhanahu wa ta'ala akan membukakan pintu maaf selebar-lebarnya. Sebagai seorang manusia, kita tidak boleh sombong dan tidak mau memaafkan kesalahan orang lain sebelum orang tersebut meminta maaf.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

Bertakwalah kepada Allah di mana engkau berada, tindak lanjutilah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut menghapus kesalahan tersebut, dan bergaullah dengan manusia lain dengan akhlak yang baik.

(HR. Hakim dan At-Tirmidzi)

🌼Husnuzon

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,

Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kalian mengejek sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.

(QS. Al-Hujurat : 12)

Seorang muslim terkadang berburuk sangka atau suudzon pada sesama muslim lainnya yang membuat ia mengecilkan orang tersebut. Ia akan berkata banyak hal tentang orang tersebut dan mengatakan dirinyalah yang jauh lebih baik.

Sikap ini adalah sikap yang tidak dibenarkan dan setiap muslim wajib mawas diri untuk tidak mencapai posisi yang cenderung memancing sebuah tuduhan sehingga orang lain tidak akan berburuk sangka pada dirinya.

🌼Ikhlas

Jika dilihat, ikhlas adalah kata yang sederhana dan terdengar ringan untuk dikatakan, akan tetapi ikhlas menjadi hal sulit untuk dilaksanakan.

Seseorang yang ikhlas bisa meniatkan semua tindakannya pada Allah Subhanahu wa ta'ala dan ia juga tidak mempunyai sifat yang duniawi.

🍃Jika Allah Subhanahu wa ta'ala sedang memberikan ujian dengan kenikmatan, maka orang tersebut akan lebih banyak bersyukur.

🍃Jika Allah sedang menguji dengan memberikan kesusahan, maka orang tersebut juga akan lebih bersabar.

Seseorang yang ikhlas akan senantiasa percaya pada Allah Subhanahu wa ta'ala yang akan memberikan segala sesuatu paling baik untuk hamba-Nya. Seseorang yang ikhlas akan lebih mudah untuk menjaga hati dan selalu menyerahkan segala sesuatunya hanya pada Allah Subhanahu wa ta'ala dan hanya Pada-Nya lah ia menggantungkan semua harapan.

Memaafkan juga menjadi bentuk cinta tertinggi yang akan mengarahkan seseorang saat sedang tersakiti hatinya oleh orang lain. Akan tetapi, meskipun luka hati tersebut sangat kecil atau sebaliknya yakni sangat besar, maka sudah selayaknya kita tidak berbahagia sebelum bisa memaafkan orang tersebut.

Wallahu’alam bishowab.

 

Materi Kajian : Ustadzah Dian Lestarianti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#Dirumahaja Lockdownku

Mengenal Simbol-simbol Flowchart dan Contohnya

HOW TO BE MUSLIMAH SHALIHAH🌹