Sayyidah Khadijah Istri Pertama Rasullaah SAW
BISMILLAAH...
🌹Sayyidah
Khadijah Binti Khuwailid🌹
Khadijah binti Khuwailid' (Bahasa Arab:خديجة, Khadijah al-Kubra)
(sekitar 555 - 619) merupakan isteri pertama Nabi Muhammad. Nama lengkapnya
adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah
al-Kubra, anak perempuan dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za'idah,
berasal dari kabilah Bani Asad dari suku Quraisy. Ia merupakan wanita as-Sabiqun
al-Awwalun.
Khadijah berasal dari golongan pembesar Mekkah. Menikah dengan
Nabi Muhammad, ketika berumur 40 tahun, manakala Nabi Muhammad berumur 25
tahun. Ada yang mengatakan usianya saat itu tidak sampai 40 tahun, hanya
sedikit lebih tua dari Nabi Muhammad. Khadijah merupakan wanita kaya dan
terkenal. Khadijah bisa hidup mewah dengan hartanya sendiri. Meskipun memiliki
kekayaan melimpah, Khadijah merasa kesepian hidup menyendiri tanpa suami,
karena suami pertama dan keduanya telah meninggal.
Khadijah dikenal sebagai wanita suci di zamannya tatkala di antara
lingkungannya sudah kotor. Dia, Khadijah r.a. betul-betul pilihan Tuhan yang
dipersiapkan untuk menjadi istri Nabi Muhammad
Pada suatu hari, saat pagi buta, dengan penuh kegembiraan ia pergi
ke rumah sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal. Ia berkata, “Tadi malam aku
bermimpi sangat menakjubkan. Aku melihat matahari berputar-putar di atas kota
Mekkah, lalu turun ke arah bumi. Ia semakin mendekat dan semakin mendekat. Aku
terus memperhatikannya untuk melihat ke mana ia turun. Ternyata ia turun dan
memasuki rumahku. Cahayanya yang sangat agung itu membuatku tertegun. Lalu aku
terbangun dari tidurku". Waraqah mengatakan, “Aku sampaikan berita gembira
kepadamu, bahwa seorang lelaki agung dan mulia akan datang meminangmu. Ia
memiliki kedudukan penting dan kemasyhuran yang semakin hari semakin meningkat".
Tak lama kemudian Khadijah ditakdirkan menjadi isteri Nabi Muhammad.
Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa
gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak
itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak
munculnya sang pemimpin itu. Lamaran dari Khadijah kepada Rasulullah s.a.w .
Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu Khadijah r.a.
berkata: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada
dermawan. Dengan sikap merendahkan diri tetapi tahu harga dirinya)
Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak
malu-malu tetapi pasti. Muhammad SAW: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari
bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk
mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu” (Kepalanya tertunduk,
dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban). Khadijah: Oh,
itukah…. Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk
menutupi keperluan yang engkau maksudkan. Tetapi biarlah, nanti saya sendiri
yang mencarikan calon isteri bagimu. (Ia berhenti sejenak, meneliti). Kemudian
meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandung isyarat . Khadijah r.a:
Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik,
kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing,
tetapi ditolaknya.
Kepadanyalah aku hendak membawamu. khadijah (Khadijah tertunduk
lalu melanjutkan): Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah
bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi
kepadamu. Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama
terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawaban, yang
lainnya tak tahu apa yang mau dijawab. Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa
yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan
gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa
kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a. Rasulullah SAW minta izin
untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan.
Ia menceritakan kepada Pamannya. Pemuda al-Amin berkata: Aku
merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah. Seolah-olah dia memandang
enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu…. Ia mengulangi apa yang
dikatakan oleh perempuan kaya itu. ‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia
seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung
kehormatan Bani Hasyim. Katanya: Muhammad, kalau benar demikian, aku akan
mendatanginya.
‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan
terus menegurnya: Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan
kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu
menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad? Khadijah r.a terkejut mendengarnya.
Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri
menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah: Khadijah: Siapakah yang sanggup
menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa
dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad Saw. Kalau ia mau, aku bersedia
menikah dengannya, kalau tidak, aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati.
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita
bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius. Tapi Khadijah, apakah
suara hatimu sudah diketahui oleh sepupumu Waraqah bin Naufal? tanya ‘Atiqah
sambil meneruskan: Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.Ia belum tahu, tetapi
katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana.
Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran.
Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin
Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan
bersuamikan seorang Nabi akhir zaman. ‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang,
puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada
saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang
menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah: itu bagus sekali, kata Abu
Thalib. Tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.
Sebelum diajak bermusyawarah, maka terlebih dahulu ia pun telah
menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang
untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya:
Nafisah: Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri? Muhammad
SAW menjawab: Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada. Nafisah: Bagaimana
kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat
seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu,
apakah engkau akan menolaknya?
Pemuda al-Amiin (Rasulullah Saw): Siapakah dia?, tanya Muhammad
(Saw). Nafisah: Khadijah! Nafisah berterus terang. Asalkan engkau bersedia,
sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku! Usaha Nafisah berhasil. Ia
meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah (r.a),
menceritakan kesediaan Muhammad Saw. Setelah Muhammad Saw menerima
pemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah
(r.a), maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima
belas tahun lebih tua daripadanya. Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada
Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman.
Dan yang utama karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk
mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya. Kalau dikatakan
janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tetapi janda yang masih
segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli. Maka diadakanlah
majlis yang penuh keindahan itu. Hadir Waraqah bin Naufal dan beberapa
orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi
meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju.
Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita yang berkenaan.
Pernikahan Muhammad dengan Khadijah, Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan
jujur ia berkata kepada Waraqah: Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak
Muhammad Saw padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur,
kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas.
Waraqah berujar:Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak
berharta. Sambut Khadijah ra: Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta.
Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku
dengannya. Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa
dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan
kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan maskawin lima ratus dirham.
Abdullah bin Abu Quhafah (Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a), sahabat akrab Muhammad
Saw sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir,
yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam
upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi
adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.
Peristiwa pernikahan Muhammad (SAW) dengan Khadijah (r.a)
berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga
ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama
‘Amir bin Asad. Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih,
disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: Alhamdulillaah, segala puji bagi
Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak
cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar. Begitupun kita memuji Allah SWT Yang
menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman
sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan
ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka
sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah
bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan
tetapi Muhammad, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar
Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan maskawin lima ratus dirham yang
akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya
bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita
gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat.
“Semoga Allah memberkati pernikahan ini.
Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah
di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri
berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai
lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan
harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.
Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah (r.a) membuka isi
hati kepada suaminya dengan ucapan: Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta
kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari
bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya
adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau
redhai !
Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia
(Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan
kekayaan”. (Adh-Dhuhaa: 8) Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup
sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.
Ketika Nabi Muhammad masih muda dan dikenal sebagai pemuda yang
lurus dan jujur sehingga mendapat julukan Al-Amin, telah diperkenankan untuk
ikut menjualkan barang dagangan Khadijah. Hal yang lebih banyak menarik
perhatian Khadijah adalah kemuliaan jiwa Nabi Muhammad. Khadijah lah yang lebih
dahulu mengajukan permohonan untuk meminang Dia, yang pada saat itu bangsa Arab
jahiliyah memiliki adat, pantang bagi seorang wanita untuk meminang pria dan
semua itu terjadi dengan adanya usaha orang ketiga, yaitu Nafisah Binti Munyah,
'Atiqah dan peminangan dibuat melalui paman Muhammad (SAW) yaitu Abu Thalib.
Keluarga terdekat Khadijah tidak menyetujui rencana pernikahan ini. Namun Khadijah
sudah tertarik oleh kejujuran, kebersihan dan sifat-sifat istimewa dia ini,
sehingga ia tidak memedulikan segala kritikan dan kecaman dari keluarga dan
kerabatnya. Khadijah yang juga seorang yang cerdas, mengenai ketertarikannya
kepada Nabi Muhammad mengatakan, Jika segala kenikmatan hidup diserahkan
kepadaku, dunia dan kekuasaan para raja Persia dan Romawi diberikan kepadaku,
tetapi aku tidak hidup bersamamu, maka semua itu bagiku tak lebih berharga
daripada sebelah sayap seekor nyamuk.
“Dia beriman kepadaku saat orang-orang mengingkariku, dia
membenarkan aku selagi orang-orang mendustakan aku, dia mendukung aku dengan
hartanya ketika orang-orang tidak memberikan sesuatu kepadaku, dan Allah
menganugerahiku anak darinya, berbeda dengan istri-istriku yang lain.” Kata
Nabi Muhammad tentang sosok Sayyidah Khadijah, sebagaimana diriwiyatkan Ahmad
dalam Musnad-nya. Nabi Muhammad mengarungi bahtera rumah
tangga bersama Sayyidah Khadijah binti Khuwailid selama 25 tahun, atau hingga
Sayyidah Khadijah wafat. Dalam rentang waktu itu, Nabi Muhammad berumah tangga
secara monogami. Tidak pernah menikah dengan wanita lainnya. Hanya dengan
Sayyidah Khadijah saja. Sesuatu yang ‘langka’ terjadi mengingat pada zaman itu
laki-laki ‘berlomba-lomba memperbanyak’ istri.
Nabi Muhammad menikah ketika usianya 25 tahun, sementara Sayyidah
Khadijah 40 tahun. Kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi oleh sakinah karena
baik Nabi Muhammad maupun Sayyidah Khadijah menerapkan mawaddah dan rahmah
dalam kehidupan mereka. Sebagai seorang istri, Sayyidah Khadijah mampu
menyesuaikan diri dengan irama kehidupan Nabi Muhammad: menyukai apa yang
membuat Nabi senang dan menjauhi apa yang menjadikan Nabi jengkel, termasuk
memuliakan kerabat dan tamu Nabi.
Sewaktu malaikat turun membawa wahyu kepada Muhammad maka Khadijah
adalah orang pertama yang mengakui kenabian suaminya, dan wanita pertama yang
memeluk Islam. Dia turut menenangkan hati Rasulullah, di kala kegalauan Nabi
sewaktu wahyu pertama turun. Khadijah (r.ha) berkata, Tidak demikian, tetapi
bergembiralah. Maka demi Allah, Allah takkan Mencelakakan engkau selamanya;
engkau suka menyambungkan tali silaturahim, dan selalu jujur dalam bicara,
meringankan derita orang lain, menyantuni orang tak mampu, menjamu tamu, dan
menolong orang lain untuk mendapatkan haknya. Sepanjang hidupnya bersama Nabi,
Khadijah begitu setia menyertainya dalam setiap peristiwa suka dan duka. Setiap
kali suaminya ke Gua Hira’, ia pasti menyiapkan semua perbekalan dan
keperluannya. Seandainya Nabi Muhammad agak lama tidak pulang, Khadijah akan
melihat untuk memastikan keselamatan suaminya. Sekiranya Nabi Muhammad khusyuk
bermunajat, Khadijah tinggal di rumah dengan sabar sehingga Beliau pulang.
Apabila suaminya mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, dia coba
sekuat mungkin untuk mententram dan menghiburkan, sehingga suaminya benar-benar
merasai tenang. Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama. Allah
mengkaruniakannya 6 orang anak, yaitu Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqaiah,Ummi
Kultsum, dan Fatimah.
Hal yang sama juga ditunjukkan Nabi Muhammad. Sebagai suami,
beliau begitu mencintai istrinya tersebut, memuliakannya, dan menghormatinya.
Termasuk juga mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga yang menjadi tanggung
jawabnya dan mengasuh anak-anak Sayyidah Khadijah, hasil pernikahannya dengan
suami sebelumnya. Sayyidah Khadijah sudah pernah menikah dua kali
sebelum dipersunting Nabi. Pertama, dengan Atiq bin Abid dan memiliki
seorang putra bernama Abdullah. Kedua, dengan Abu Halah (Hind) bin
Zurarah dan memiliki tiga orang anak, yaitu Hind, al-Harits, dan Zainab. Setelah
suami pertama meninggal, Sayyidah Khadijah baru menikah dengan suaminya yang
kedua. Begitu pun ketika menikah dengan Nabi Muhammad.
Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia
berkata:Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata:”Wahai, Rasulullah, ini
Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman.
Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan
beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara
yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.
Dalam banyak kegiatan peribadatan Nabi Muhammad, Khadijah pasti
bersama dan membantunya, seperti menyediakan air untuk mengambil wudhu. Nabi Muhammad
menyebut keistimewaan terpenting Khadijah dalam salah satu sabdanya, “Di saat
semua orang mengusir dan menjauhiku, ia beriman kepadaku. Ketika semua orang
mendustakan aku, ia meyakini kejujuranku. Sewaktu semua orang menyisihkanku, ia
menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku.”
Kesetiaan Nabi Muhammad kepada Sayyidah Khadijah melekat pada
dirinya sepanjang hidup, bahkan ketika istri pertamanya tersebut sudah wafat
dan beliau sudah tinggal di Madinah. Ada banyak riwayat mengenai hal ini,
seperti diceritakan Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal dalam Khadijah (2014) dan M
Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW (2018). Diriwayatkan
Sayyidah Aisyah bahwa Nabi Muhammad hampir tidak pernah keluar rumah kecuali
menyebut Nama Sayyidah Khadijah dan memujinya dengan pujian yang baik. Hingga
suatu hari Sayyidah Aisyah cemburu dan berkata kepada Nabi: “Apa yang engkau
ingat dari seorang wanita tua dari kelompok wanita-wanita tua suku Quraisy yang
kedua bibirnya putih dan telah diwafatkan oleh masa. Allah pun telah
menggantikan untukmu yang lebih baik darinya.”
Nabi Muhammad menahan amarah usai mendengar perkataan Sayyidah
Aisyah itu. Kata Nabi, Allah tidak mengganti Sayyidah Khadijah untuknya dengan
siapapun yang lebih baik darinya. Sayyidah Khadijah beriman ketika orang-orang
menolaknya. Dia membenarkan Nabi ketika orang lainnya menilainya berbohong. Dia
mendukung Nabi dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberinya sesuatu. Dan
Allah memberi Nabi rezeki anak-anak darinya, sementara istri-istrinya yang lain
tidak.
Terkadang Nabi Muhammad juga menyembelih kambing dan memotongnya
menjadi beberapa potongan. Nabi kemudian membagikan potongan-potongan tersebut
sebagai sedekah bagi Sayyidah Khadijah. Nabi juga kadang memerintahkan untuk
mengirimkan hadiah kepada teman-teman Sayyidah Khadijah. Alasan Nabi melakukan
itu adalah karena beliau menyukai atau mengasihi kekasih Sayyidah Khadijah.
Kesetiaan Nabi Muhammad kepada Sayyidah Khadijah juga tercermin
dari bagaimana beliau memuliakan dan merasa antusias ketika didatangi saudara
atau orang-orang yang pernah dengan dekat istri pertamanya itu. Suatu hari ada
saudara perempuan Sayyidah Khadijah, Halah, datang ke Madinah. Halah sendiri
memiliki suara yang mirip dengan Sayyidah Khadijah. Jadi ketika Halah sampai di
halaman rumah Nabi, beliau langsung mengenalinya. Padahal beliau baru mendengar
suara Halah saja dan belum melihat orangnya.
Pada kesempatan lain, Nabi Muhammad yang saat itu berada di rumah
Sayyidah Aisyah dikunjungi seorang perempuan tua. Beliau menyambut dan
memuliakan perempuan tua tersebut, bahkan sampai menggelar sorbannya untuk
tempat duduk tamunya itu. Kejadian itu membuat Sayyidah Aisyiah penasaran; apa
yang membuat Nabi sampai memuliakan perempuan itu. Kata Nabi, perempuan tua itu
dulu pernah mengunjungi Sayyidah Khadijah
Hal yang sama juga dilakukan Nabi kepada Ummu Zafar, orang yang
dulu menyisir rambut Sayyidah Khadijah. Beliau memuliakannya ketika Ummu Zafar
datang ke Madinah. Kata Nabi, ‘Perempuan ini dulu melayani kami di masa
Khadijah, yaitu masa yang baik karena iman.’
Begitu pun ketika Fathu Makkah. Pada hari itu, Nabi Muhammad
membuat kemah di satu lokasi dekat dengan bekas rumah Sayyidah Khadijah karena
rumah itu sendiri sudah tiada. Di saat pasukan umat Islam tengah sibuk, Nabi
Muhammad menyendiri dan tengah berbincang-bincang dengan seorang perempuan tua.
Sayyidah Aisyah yang melihat wajah Nabi berseri-seri ketika bercakap-cakap
dengan wanita tua itu menjadi penasaran. Setelah ditanyakan sana-sini, maka
diketahui kalau wanita tua itu adalah sahabat dekat Sayyidah Khadijah. Tema
obrolan Nabi dan wanita tua itu seputar kenangan manis beliau dengan Sayyidah
Khadijah.
Sikap Nabi Muhammad yang seperti itu tidak lepas dari kiprah dan
peran Sayyidah Khadijah semasa hidupnya. Sayyidah Khadijah adalah orang pertama
yang beriman kepada Nabi Muhammad. Dia juga orang pertama yang shalat bersama
Nabi. Dia juga orang pertama yang menemani, mendukung, dan menolong Nabi
Muhammad baik dengan materi maupun imateriel dalam mendakwahkan Islam. Atas hal
itu semua, Nabi Muhammad begitu memuliakan dan bersikap setia kepada Sayyidah
Khadijah.
semakin hari semakin banyak pengikut Rasulullah. Hal itu membuat
geram kaum musyrikin. Akhirnya mereka membuat kesepakatan untuk memboikot
Rasulullah dan pengikutnya. Boikot itu akan berakhir jika Rasulullah berhenti
berdakwah dan meninggalkan agama baru itu. Di masa-masa sulit itu, Khadijah
berusaha membagikan apa saja yang ia punya kepada kaum muslimin yang tertindas
dan kelaparan. Semua kekayaannya terkuras habis selama tiga tahun masa
pemboikotan tersebut. Setelah masa sulit itu berakhir, Khadijah jatuh sakit. Di
dalam pembaringannya, ia menyebutkan segala nama baik sang Suami. Rasul Allah.
Dengan menyebut syahadat, kekasih dari kekasih-Nya pergi. Meninggalkan sang utusan
terakhir.
Khadijah telah hidup bersama-sama Nabi Muhammad selama 24
tahun dan wafat dalam usia 64 tahun 6 bulan. Dia meninggal
di gunung Hujun, dan dimakamkan di pemakaman dekat Mekkah setelah
sakit-sakitan dan melemah setelah lama menahan rasa lapar setelah masa blokade
orang Quraisy selama 3 tahun. Tahun meninggalnya dikenal sebagai Amul
Huzni (Tahun Dukacita).
Tahun itu disebut tahun duka cita karena Abu Thalib dan Khadijah,
paman dan istri tercinta Rasulullah SAW, pergi menuju Sang Pencipta.
Dengan penuh kesedihan, Rasulullah menggoreskan empat buah
garis ke tanah dengan cabang pohon kurma.
“Tahukah kalian apa arti empat garis ini?” tanya Rasulullah
“Rasul Allah pasti tahu yang sebenarnya,“ jawab para sahabat.
“Empat garis ini menggambarkan empat wanita ahli surga yang
paling mulia. Khadijah binti Khuwaylid, Fatimah binti Muhammad, Istri
Firaun, putri Mudzahim, Asiyah, dan Maryam, putri Imran. Semoga Allah meridhai
mereka.”
Wallahu'alam Bissawab
Materi kajian : Ustadzah Syarifah Fatimah binti Abu
Bakar Assegaf
@ummu_syednaqib
@silaturrahmiakhwat
Komentar
Posting Komentar