Istri Harun Ar-Rasyid - Ratu Zubaidah
BISMILLAAH...
🌸Sang Ratu Zubaidah binti Ja’far🌸
Nama aslinya Amatul Aziz binti
Ja’far bin Abi Ja’far Al-Manshour. Julukannya adalah Zubaidah yang didapat dari
sang kakek karena kulitnya yang putih bersih dan sifatnya yang lembut. Ia
seorang perempuan dari golongan Bani Abbas dan berpemikiran cemerlang. Beliau
dilahirkan pada tahun 765 M., tepatnya saat pemerintahan Dinasti al-Mahdi.
Ia dinikahkan dengan salah satu
Khalifah Abbasiyah, yaitu Harun ar-Rasyid pada tahun 781 M. Dari hasil
pernikahannya dengan Harun ar-Rasyid, lahirlah seorang anak yang bernama
Muhammad bin Harun al-Amin. Walaupun begitu, Zubaidah bukanlah perempuan yang
berpemikiran lemah dan bercita-cita rendah.
Ia adalah perempuan yang menghiasi
dirinya dengan keluhuran budi pekerti. Sepanjang hidupnya, beliau dikenal
sebagai sufi, guru-besarnya yaitu Imam Ismaili (Muhammad bin
Ismail). Sungguh menakjubkan perempuan mulia ini. Ia tidak sibuk dengan
kemewahan dan kemegahan istana, tapi ia malah menjadi perempuan salehah yang
sangat dermawan.
Suatu ketika pembantu Zubaidah
menahan seorang laki-laki yang mengurus usahanya dan ia menanggung hutang
sebesar 200.000 dirham. Laki-laki yang ditahan mengirim surat kepada kedua
temannya agar menanyakan kepada pembantu Zubaidah tentang persoalannya.
Di tengah perjalanan, kedua orang
ini bertemu dengan al-Faidah bin Abi Shalih, al-Faidah kemudian bertanya,
“Hendak kemana kalian?”
“Kami mau menemui pembantunya
Zubaidah,” sahut mereka. Al-Faidh pun bertanya lagi, “Maukah kalian aku bantu?”
“Ya,” jawab mereka.
Mereka bertiga pun berangkat
menemui pembantu Zubaidah, namun Zubaidah berkata ia tidak dapat dilepaskan
sampai ia membayar kewajibannya.
Akhirnya al-Faidah mengambil tinta
dan menulis surat kepada pembantu Zubaidah perihal penangguhan hutang bagi
laki-laki yang ditahan. Ketika surat itu sampai di tangan Zubaidah, rasa ingin
memberi mengetuknya dan ia tidak ingin melihat al-Faidh lebih dermawan dari
dirinya.
Maka ia membalas surat itu dengan
menulis, “Kami lebih berhak melakukan kemuliaan ini daripada al-Faidh,
kembalikan uang ini kepadanya dan serahkan pula laki-laki itu kepadanya pula.”
Inilah Zubaidah binti Ja’far sosok
wanita yang tidak tergiur dengan gemerlapnya harta dan perhiasan dunia. Saat
musim haji ia berangkat untuk menunaikan ibadah haji. Di sepanjang perjalanan,
ia tidak lewatkan kesempatan emas untuk selalu berbuat kebaikan yaitu menolong
orang-orang yang lemah dengan memberikan hak-haknya.
Ketika Zubaidah sampai di Mekkah
dan melihat penderitaan penduduk Mekkah serta para jamaah haji dengan kurangnya
air, ia bertekad untuk memberi minum para jamaah haji. Ia panggil
bendaharanya dan ia perintahkan untuk mendatangkan para arsitek serta para
pekerja untuk membuat saluran air di tengah pegunungan dan padang pasir
hingga sampai di Makkah. Ini pekerjaan yang tidak mudah, di mana saluran
air dibangun di atas gunung yang bebatuan terjal sepanjang 10 mill.
Ketika datang, sang bendahara
kemudian berkata kepada Zubaidah, “Pekerjaan ini membutuhkan biaya yang amat
besar.”
“Kerjakanlah! Walaupun harus
membuat kapak dengan dinnar,” jawab Zubaidah.
Dengan izin Allah SWT, terwujudlah
cita-cita perempuanini. Saluran air mengalir dengan derasnya kepada para
penduduk Makkah dan orang-orang yang berhaji, sehingga mereka dapat minum kapan
saja, tanpa khawatir tak ada air.
Inilah cita-cita dari seorang
perempuan yang amat mulia dengan menghabiskan 1.000.000 dinar untuk mega proyek
pembuatan saluran air sehingga banyak lisan yang mengucapkan doa untuknya dan
tangan diangkat untuknya.
Di lain kesempatan, bendaharanya
melaporkan uang pengeluaran yang tidak sedikit. Dalam jangka waktu enam puluh
hari, uang sebanyak 5.400.000 dinar habis untuk berinfak.
Betapa agung dan mulianya Ummu
Ja’far, perempuan berketurunan mulia dan cucu dari Bani Abbas. Dia adalah
perempuan yang senantiasa membaca Al-Qu’ran di setiap pagi dan sore, hingga
istananya semerbak dengan wangi Al-Qu’ran. Ia juga memiliki seratus dayang yang
hafal al-Qu’ran dan masing-masing dari mereka setiap hari nya membaca 1/10
al-Qu’ran sehingga terdengar dari istana sang tuan putri ini terdengar lantunan
al-Qu’ran seperti suara lebah.
Zubaidah menghabiskan hari-hari nya
dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Ia mempersiapkan simpanan yang paling
berharga untuk menghadapi hari yang tak lagi berguna selain amal kebaikan yang
kekal.
Pada Jumadil Akhir tahun 216 H, ia
meninggal dunia dan dimakamkan di Baghdad pada usia 71 thn. Perempuan yang
terpelihara dari perbuatan buruk, mutiara yang tersimpan, pemberi minum
orang-orang yang pergi haji, penolong orang-orang yang terdzalimi, penyabar dan
cerdas, telah pergi meninggalkan dunia.
Zubaidah meninggalkan banyak hal
baik sebelum wafat, di antaranya adalah memiliki seratus pembantu wanita yang
menghafal Al-Qur’an, dan masing-masing di antara mereka senantiasa mewiridkan
Al-Qur’an, sedangkan ia menyimak bacaan mereka di istananya.
Dia juga memiliki “Sumber Mata Air
Zubaidah” karena ia menyediakan sumur untuk penduduk Mekah dan para jamaah
haji. Imam Ibnu Jauzi bertutur,
“Ia memberi minum penduduk Mekah,
pada ketika air satu kolah (ukuran air tersebut) seperti 1 dinar, ia
mengalirkan air sejauh 10 batu yang membelah bukit hingga air itu dapat
mengalir dari sumber mata air ke tanah haram. Mata air tersebut dinamakan “Mata
Air Zubaidah”, salah satu sumber mata air di daerah Mekah, terletak di hujung
lembah Nu’man, sebelah Timur Mekah. Projek ini menelan belanja sebanyak
1.000.700 dinar.
Ibnu Jabir juga pernah mengatakan
dalam perjalanan ketika berhaji, bahwa kebanyakan perumahan dari Baghdad sampai
ke Mekah merupakan peninggalan Zubaidah binti Ja’far.
Wallahu A’lam.
Materi Kajian : Ustadah Syarifah
Sahla Amalia Alhami
Komentar
Posting Komentar